Bagaimana Al-Qur’an Sampai kepada Kita (5)

Sebagaimana telah diketahui bahwa Nabi saw adalah seorang dari bangsa Arab. Bangsa Arab berbicara dengan menggunakan bahasa Arab. Pada zaman Muhammad saw, bangsa Arab terdiri dari banyak kabilah yang sebagiannya menetap di Makkah, Yatsrib (Madinah), sebagian lagi tinggal di kawasan Bani Tamim (sekarang Riyadh), adapula yang berdomisili di pesisir timur jazirah Arab. Kabilah-kabilah tersebut berbicara dengan bahasa Arab. Setelah sebelumnya dibahas dari segi penulisan, di segmen ini akan dibahas tentang Al-Qur’an dari segi lisan.
Continue reading “Bagaimana Al-Qur’an Sampai kepada Kita (5)”

Bagaimana Al-Qur’an Sampai kepada Kita (4)

Pasca wafatnya khalifah Abu Bakar ra, mushhaf Ash-Shiddiqiyyah beralih ke tangan `Umar bin Khaththab ra sebagai khalifah kaum muslimin yang baru selama sepuluh tahun kepemimpinan beliau. Kemudian setelah `Umar ra meninggal dunia, mushhaf tersebut disimpan oleh putrinya, Hafshah ra, ummul mukminin, istri Rasulullah saw. Ketika `Utsman bin `Affan ra menjadi khalifah, beliau tidak serta merta mengambil alih kepemilikan mushhaf. Sebagaimana diketahui bahwa `Utsman ra memiliki sifat haya’ (malu), sehingga dapat dimengerti jika beliau mendahulukan respek ketimbang memerintahkan kepada Hafshah ra untuk menyerahkan mushhaf kepadanya sebagai khalifah yang baru. `Utsman ra memberikan kepercayaan kepada Hafshah ra dengan statusnya sebagai putri `Umar ra serta istri Nabi saw. Mushhaf berada di tangan terpercaya dan tidak perlu dikhawatirkan.
Continue reading “Bagaimana Al-Qur’an Sampai kepada Kita (4)”

Bagaimana Al-Qur’an Sampai kepada Kita (3)

Penulisan Al-Qur’an tahap kedua terjadi pada masa khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, setelah wafatnya Rasulullah saw. Di zaman itu terjadi perang riddah melawan orang-orang murtad yang menyebabkan banyak diantara qari’ Al-Qur’an yang terbunuh. Begitulah qurra’ pun ambil bagian dalam perjuangan mempertahankan kemuliaan Islam. Melihat banyaknya qari’ yang wafat, `Umar ra menjadi khawatir terhadap tulisan-tulisan Al-Qur’an yang tersebar di kalangan sahabat tersebut akan hilang. Segmen-segmen itu sangat berharga karena ditulis langsung di hadapan Rasulullah. Walaupun para sahabat telah menyebarkan manuskrip Al-Qur’an dan yang lain telah menyalinnya, namun tentu saja salinan itu tidak sama nilainya dengan tulisan asli. Manuskrip asli yang ditulis di atas lembaran kulit, lempeng batu, atau pelepah kurma itu ditulis dengan pengawasan samawi yang mana selesai penulisan setelah mendapatkan ridha dari Rasulullah saw dalam majelis nubuwwah. Salinannya bisa jadi identik, bisa juga tidak, karena tidak mendapatkan pengawasan seperti halnya tulisan asli. Demikian pemikiran `Umar. Dan Ingatlah bahwa pemikiran `Umar ra adalah hal yang disebut Rasulullah saw, “Seandainya ada nabi setelahku, pastilah orang itu `Umar.”
Continue reading “Bagaimana Al-Qur’an Sampai kepada Kita (3)”

Bagaimana Al-Qur’an Sampai kepada Kita (2)

Telah dibahas sebelumnya bahwa penjagaan Al-Qur’an dimulai sejak pertama kalinya diturunkan. Ketika diturunkan dari langit ke dalam hati Rasulullah saw, beliau menerimanya secara lafaz, makna, serta segala yang dikehendaki Allah dalam penurunannya, baik tersurat maupun tersirat. Beliau saw pun mengajarkan kepada kita apa-apa yang Allah perintahkan untuk diajarkan. Allah berfirman, “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (Al-Maidah: 67). Maka serta merta Nabi saw menyampaikannya kepada para sahabat dengan cara tertentu, yaitu dengan melafalkannya melalui mulut Beliau saw dan para sahabat mendengarkan dengan telinga manusiawinya. Kemudian para sahabat melafalkannya kembali di hadapan Rasulullah saw yang menyimak dengan telinganya. Dalam pada itu, Nabi saw akan membenarkan dan/atau memperbaiki. Jika proses talaqqi sudah terkonfirmasi, bangkitlah para sahabat untuk menyampaikan Al-Qur’an kepada yang lain.
Continue reading “Bagaimana Al-Qur’an Sampai kepada Kita (2)”

Bagaimana Al-Qur’an Sampai kepada Kita (1)

*Disarikan dari kuliah Dr. Ayman Rusydi Suwaid di European Institute of Islamic Sciences

Allah mengutus Muhammad saw sebagai nabi umat manusia pada lebih kurang empat belas abad yang lalu beserta turunnya sebuah kitab penutup, yaitu Al-Qur’an. Dan kitab tersebut telah sampai kepada kita tanpa pengurangan sedikitpun. Itulah akidah kita. Namun, apakah keyakinan kita itu memiliki landasan? Sebatas persangkaan dan fanatisme tanpa dalil? Ataukah keyakinan itu berasaskan pemahaman akan kebenaran yang jelas?
Continue reading “Bagaimana Al-Qur’an Sampai kepada Kita (1)”

Al-Qur’an: Lihat, Dengar, dan Rasakan

*Disadur dari artikel laman: http://www.islamedia.web.id/2011/10/inilah-manfaat-ilmiah-membaca-al-quran.html dengan beberapa pengubahan dan tambahan referensi.

“Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang kuat ingatan atau hafalannya. Di antaranya, menyedikitkan makan, membiasakan melaksanakan ibadah salat malam, dan membaca Al-Qur’an sambil melihat kepada mushaf.” Selanjutnya Syaikh Az-Zarnuji menulis, “Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Al-Qur’an.” [1]

Continue reading “Al-Qur’an: Lihat, Dengar, dan Rasakan”

Tarbiyah Syakhsiyah Qur’aniyah (5)

Tarbiyah Syakhsiyah 5 – Langkah-Langkah Menjadi Ahlul Qur’an
*diringkas dari buku “Tarbiyah Syakhsiyah Qur’aniyah : 16 Langkah Membangun Kepribadian Qur’ani” karya Ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf, Al-Hafidz, Lc.

Agar cakrawala hidup di bawah naungan Al-Qur’an terbuka dengan luas dalam diri kita, maka persiapan yang paling utama adalah mempersiapkan kebersihan hati dari segala yang mengotorinya, seperti kotoran syirik, maksiat dan akhlak yang tercela, seperti dengki dan iri hati. “Andaikan hati itu suci, maka ia tidak akan pernah kenyang dari Al-Qur’an (selalu merindukan).”
Continue reading “Tarbiyah Syakhsiyah Qur’aniyah (5)”

Tarbiyah Syakhsiyah Qur’aniyah (4)

Tarbiyah Syakhsiyah 4 – Pengaruh Berinteraksi dengan Al-Qur’an bagi Anak
*diringkas dari buku “Tarbiyah Syakhsiyah Qur’aniyah : 16 Langkah Membangun Kepribadian Qur’ani” karya Ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf, Al-Hafidz, Lc.

“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanyalah yang berperan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)

Begitulah pesan Rasulullah kepada setiap ayah, ibu, dan para pendidik yang beriman kepada Allah sebagai penerima amanah pertama dan utama dalam kehidupan manusia. Gambaran pesan Rasulullah di atas dalam realitanya adalah; seorang anak bagaikan lembaran kain putih bersih yang luas dan tidak bernoda setitik pun. Kain itu bisa dilukis dan diwarnai dengan apa saja yang diiginkan oleh lingkungannya -khususnya lingkungan keluarganya- karena merekalah lingkungan yang terdekat dengan seorang anak. Jika orang tua melukis lembaran kain putih itu dengan lukisan nuansa iman, Islam, Al-Qur’an dan mengikuti Rasulullah, niscaya sang anak tumbuh dengan kehidupan hidayah dan jalan yang lurus menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Bahkan kebahagiaan itu juga diberikan kepada orang tua yang telah berperan mengantarkan anaknya menjadi hamba Allah yang mewarnai hidupnya dengan Al-Qur’an.

“Pada hari kiamat kelak, Allah akan memberikan penghargaan kepada setiap ayah dan ibu di hadapan seluruh manusia sejagad, berupa mahkota kemuliaan (taajul karamah) yang sinarnya lebih terang dari sinar matahari. Sampai-sampai setiap orang tua akan terheran-heran. Mengapa kami harus mendapatkan penghargaan sebesar ini padahal kami bukanlah orang yang banyak beramal? Allah menjawab, “Itu karena kalian berdua telah mengajarkan kepada anakmu Al-Qur’an.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan al-Hakim)

Inilah pentingnya peran aktif kita sebagai orang tua, guru dan para pendidik untuk aktif mewarnai anak dengan Al-Qur’an, karena jika bukan kita yang aktif, maka faktor eksternal anaklah yang aktif mewarnainya, seperti televisi dan lainnya. Pengaruh eksternal itu tidak lepas dari pengaruh setan dan budaya yang menjauhkan anak dari akhlak mulia, bahkan nilai-nilai kemanusiaannya. Lukisan setan dan seluruh stafnya adalah lukisan yang memiliki daya rusak dan daya hancur yang cepat dan efektif. Seperti sarana hiburan elektronik yang hampir-hampir semua tayangannya menghancurkan dan meluluh-lantahkan benih-benih keimanan dan keislaman yang telah diletakkan oleh Allah dalam diri manusia.

Oleh karena itu, menyemai iman di hati anak dengan Al-Qur’an harus integral dan meliputi seluruh bentuk interaksi yang dicontohkan oleh Rasulullah, mulai dari tilawah, tahfidz, tafsir, dan tadabbur. Ulama salaf kita mencontohkan bahwa fokus pembinaan Al-Qur’an pada mereka adalah tilawah dan tahfidz. Al-Qur’an ibarat makanan yang disantap oleh manusia setiap hari, bahkan lebih dari itu. Apa yang kita makan setiap hari disadari atau tidak akan bermanfaat bagi tubuh, apakah sebagai zat yang membangun atau sebagai sumber energi, dan lainnya. Begitulah Al-Qur’an, apa yang dibaca oleh seseorang dengan didasari iman dan cinta kepada Allah pasti akan berproses menjadi cahaya, petunjuk, dan rahmat bahkan terapi bagi manusia yang beriman.

Program suci mengakrabkan Al-Qur’an kepada anak didik harus dengan pandangan keimanan, bukan dengan pandangan keterpaksaan atau tradisi. Karena sesungguhnya Al-Qur’an adalah Kitab yang memiliki cakrawala pandangan yang luas seluas samudra yang tidak bertepi. Masa anak-anak adalah masa yang paling tepat mengakrabkan anak dengan nash-nash Al-Qur’an, sehingga menjadi hafalan yang melekat di dalam otak. Ia akan bermanfaat di usia dewasanya kelak, untuk pengembangan ilmu yang diminatinya. Dan kecenderungan potensi menghafal jika tidak diisi oleh Al-Qur’an, maka akan terisi hafalan-hafalan lain yang tidak bermanfaat, bahkan membahayakan anak.

Al-Qur’an yang suci akan cepat menyatu dengan jiwa yang suci yang ada pada diri anak, sehingga menghasilkan keimanan dan keislaman yang ideal. Ia akan menjadi modal besar pada masa dewasanya untuk melaksanakan syariat Allah dengan penuh ketulusan dan kesadaran, sebab dalam dirinya telah tercukupi modal keimanan yang seimbang dengan bobot amal tersebut. Spiritual yang sehat akan membuat anak kita kuat menghadapi tantangan kehidupan yang semakin tahun semakin meningkat dan berat, selanjutnya setiap tantangan kehidupan yang dihadapinya akan diselesaikan dengan solusi yang Rabbani, yakni senantiasa mengembalikan dirinya kepada Allah. Sebaliknya, spiritual yang ringkih akan menjadikan anak tidak tahan menghadapi tekanan hidup pada masa dewasanya sehingga maksiat menjadi solusi dalam menyelesaikan masalah. Na’udzu billah min dzalik!

Dari penjelasan di atas, dapat kita pahami, seharusnya Al-Qur’an menjadi mata pelajaran unggulan dari mata pelajaran yang lain, karena ia merupakan pondasi segala ilmu yang dipelajari setiap orang. Tentunya dengan metode dan cara pembelajaran yang berbeda dengan mata pelajaran yang lain. Adalah persepsi salah, yang menyatakan bahwa pelajaran Al-Qur’an hanya terbatas pada anak-anak TK, atau anggapan berat dan sulit. Karena Al-Qur’an bukan diturunkan untuk menjadikan orang yang berinteraksi dengannya merasa tertekan jiwanya atau sengsara. Dengan demikian, Al-Qur’an harus menjadi mata pelajaran yang akrab dengan manusia, sejak masa anak-anak sampai akhir hayat.

Al-Qur’an adalah sumber ilmu yang tiada habis-habisnya. Semoga Allah menjadikan kita dan keluarga sebagai Ahlu Allah (orang-orang yang terdekat dengan Allah) yang kriterianya adalah hidup akrab dengan Al-Qur’an.

Tarbiyah Syakhsiyah Qur’aniyah (3)

Tarbiyah Syakhsiyah 3 – Apa Kewajiban Kita Terhadap Al-Qur’an?**
*diringkas dari buku “Tarbiyah Syakhsiyah Qur’aniyah : 16 Langkah Membangun Kepribadian Qur’ani” karya Ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf, Al-Hafidz, Lc.
**terjemahan dari petikan kitab “Majmu’ah ar-Rasa`il” Syeikh Hasan Al Banna, yang berjudul “Haqqul-Qur’an”

Tujuan diturunkan Al-Qur’an yang paling penting dari kewajiban yang Allah perintahkan kepada umat Islam adalah tiga, yaitu : 1) Memperbanyak tilawah sebagai bentuk ibadah pendekatan diri kepada Allah. 2) Menjadikannya sebagai sumber hukum agama dan syari’at, sehingga harus dipelajari, digali dan dijadikan sebagai alat istinbath (menentukan hukum suatu perkara). 3) Menjadikannya sebagai pondasi dalam urusan hukum dunia, karena ayat-ayatnya sangat akurat dan realistis. Itulah tiga tujuan utama yang telah Allah tetapkan dalam Kitab-Nya, dengannya Dia mengutus Nabi-Nya, dengannya diwariskan kepada kita sebagai pemberi nasihat, pengingat, penentu hukum yang adil dan penunjuk jalan yang lurus. Inilah yang dipahami salafus shalih kita, dan mereka telah melaksanakannya dengan pelaksanaan yang sebaik-baiknya.
Continue reading “Tarbiyah Syakhsiyah Qur’aniyah (3)”

Tarbiyah Syakhsiyah Qur’aniyah (2)

Tarbiyah Syakhsiyah 2 – Mengapa Harus Satu Juz Setiap Hari?
*diringkas dari buku “Tarbiyah Syakhsiyah Qur’aniyah : 16 Langkah Membangun Kepribadian Qur’ani” karya Ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf, Al-Hafidz, Lc.

Marilah kita renungi terlebih dahulu, bagaimana Rasulullah mengajak para sahabatnya membaca Al-Qur’an, ditinjau dari masa atau waktu mengkhatamkannya. Kondisi ini sudah seharusnya menjadikan kita paham akan ashalah (orisinalitas) bagaimana salafus shalih dahulu dalam mengkhatamkan Al-Qur’an. Rasulullah bersabda, “Bacalah Al-Qur’an dalam sebulan, atau bacalah dalam dua puluh lima, bacalah dalam lima belas, bacalah dalam sepuluh, bacalah dalam tujuh. Tidak akan paham bagi yang membacanya dalam kurang dari tiga hari.” (HR. Ahmad). Dalam riwayat lain disebutkan, “Bacalah Al-Qur’an dalam empat puluh.” (HR. Abu Dawud).
Continue reading “Tarbiyah Syakhsiyah Qur’aniyah (2)”