40 Hadits Al-Qur’an

Klik disini untuk download versi pdf

Hadits 1
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ الْمَكِّيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin `Abbad Al-Makki: telah menceritakan kepada kami Sufyan: dari Suhail dari `Atha’ bin Yazid dari Tamim Ad-Dari; bahwa Nabi shallallahu `alaihi wasallam bersabda, “Agama itu adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin, serta kaum awam mereka.”
HR Muslim [82]
Lihat juga: Abu Daud [4293]; Tirmidzi [1849]; Nasa’i [4126], [4127], [4128], [4129]; Ahmad [3111], [7613], [16332], [16333], [16336], [16337]; Darimi [2636]
Continue reading “40 Hadits Al-Qur’an”

Allah Never Neglects His People

Taken from Shahih Bukhari, Volume 4, Book 55 (Prophets), Number 583:

Narrated Ibn Abbas:

The first lady to use a girdle was the mother of Ishmael. She used a girdle so that she might hide her tracks from Sarah. Abraham brought her and her son Ishmael while she was suckling him, to a place near the Ka’ba under a tree on the spot of Zam-zam, at the highest place in the mosque. During those days there was nobody in Mecca, nor was there any water So he made them sit over there and placed near them a leather bag containing some dates, and a small water-skin containing some water, and set out homeward. Ishmael’s mother followed him saying, “O Abraham! Where are you going, leaving us in this valley where there is no person whose company we may enjoy, nor is there anything (to enjoy)?” She repeated that to him many times, but he did not look back at her Then she asked him, “Has Allah ordered you to do so?” He said, “Yes.” She said, “Then He will not neglect us,” Continue reading “Allah Never Neglects His People”

Rasa Malu yang Terpuji

*disadur dari kitab “Jami’ul ‘Ulum wal Hikam”, Ibnu Rajab Al-Hanbali.

Dari Abu Mas`ud Al-Badri Radhiyallahu `Anhu, yang berkata, Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda,

“Di antara sesuatu dari perkataan kenabian pertama yang diketahui manusia ialah, ‘Jika engkau tidak malu, silakan berbuat apasaja yang engkau inginkan’.” [Hadits Riwayat Bukhari]1

Petikan sabda Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam, “Di antara sesuatu dari perkataan kenabian pertama yang diketahui manusia,” mengisyaratkan bahwa perkataan tersebut diriwayatkan dari para Nabi terdahulu. Manusia saling menyebarkannya sesama mereka, dan mewariskannya dari satu generasi kepada generasi lainnya. Ini menunjukkan bahwa kenabian-kenabian terdahulu datang membawa perkataan tersebut dan perkataan tersebut dikenal luas oleh manusia hingga sampai pada masa umat Islam.

Hadits ini memiliki dua penafsiran makna:
Continue reading “Rasa Malu yang Terpuji”

6 HAK SEORANG MUSLIM DARI MUSLIM LAINNYA

Islam datang untuk mempersatukan hati dengan hati, menyusun barisan dengan tujuan menegakkan bangunan yang tunggal dan menghindari faktor-faktor yang dapat menimbulkan perpecahan, kelemahan, sebab-sebab kegagalan dan kekalahan. Sehingga mereka yang bersatu itu memiliki kemampuan untuk merealisasi tujuan luhur dan niat sucinya.

1. Apabila engkau menjumpainya engkau berikan salam kepadanya.
2. Apabila ia mengundangmu engkau memperkenankan undangannya.
3. Apabila ia meminta nasehat, engkau menasehatinya.
4. Apabila ia bersin dan memuji Allah, hendaklah engkau mentasymitkannya (berdoa untuknya).
5. Apabila ia sakit hendaklah engkau menjenguknya.
6. Apabila ia mati hendaklah engkau antarkan jenazahnya.
(HR.Muslim dan Tirmizi).

Mengucapkan Salam
Islam datang untuk mempersatukan hati dengan hati, menyusun barisan dengan tujuan menegakkan bangunan yang tunggal dan menghindari factor-faktor yang dapat menimbulkan perpecahan, kelemahan, sebab-sebab kegagalan dan kekalahan. Sehingga mereka yang bersatu itu memiliki kemampuan untuk merealisasi tujuan luhur dan niat sucinya . Oleh karena itu awal pertemuan dengan sesama muslim agar hati mereka terikat satu dengan yang lainnya hingga timbulnya rasa saling menyinta dimulai dengan mengucapkan dan menyebarkan salam : Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

Sabda Rasulullah SAW:
“Demi Dzat yang diriku dalam genggamanNya, mereka tidak masuk surga sehingga mereka beriman, dan mereka tidak beriman sehingga mereka saling menyinta. Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang jika kamu mengerjakannya kamu saling menyinta? Sebarkan salam di kalangan kamu.”

Salam yang merupakan alat penghormatan kaum muslimin lebih menegaskan bahwa agama mereka adalah agama damai dan aman, serta mereka adalah penganut salam (perdamaian) dan pencinta damai. Dalam hadis Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah menjadikan salam sebagai penghormatan bagi umat kami dan jaminan keamanan untuk kaum zimmah kami.”

Dan seseorang tidak layak memulai pembicaraan kepada sesamanya sebelum ia memulainya dengan ucapan salam, karena salam adalah ungkapan rasa aman dan tidak ada pembicaraan sebelum adanya rasa aman.

Rasulullah SAW bersabda, “Ucapkan salam sebelum memulai berbicara.”

Memenuhi Undangan
Seorang muslim yang mengundang saudaranya, maka ia berhak didatangi, oleh karena itu kewajiban yang diundang adalah mendatangi undangan tersebut sebagai mana sabda Rasulullah SAW,  “Penuhilah undangan ini jika kamu diundang.”

Undangan yang diberikan dari sesama muslim menunjukkan penghormatan dan perhatian yang besar kepada saudaranya yang diundang tersebut sehingga bagi yang tidak memenuhi undangan tentu saja menyebabkan kekecewaan. Mengabaikan undangan disamakan dengan pembangkangan kepada Allah dan Rasul, begitu juga sebaliknya saat seseorang yang datang tanpa diundang diumpamakan seperti pencuri, karena kedatangannya tidak diinginkan oleh yang mengundang seperti yang diriwayatkan oleh Abu Dawud : “Barangsiapa diundang kemudian dia tidak memenuhi undangan tersebut, maka ia telah membangkang pada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa masuk tanpa diundang, maka ia masuk sebagai pencuri.”

Memberi Nasehat
Memberi nasehat kepada sudara muslim yang memintanya hendaklah dipenuhi. Karena nasehat ini dapat mendorong saudaranya kearah kebaikan. Nasehat yang tulus akan berbekas dan berpengaruh sehingga dapat masuk kedalam relung hati yang terbuka untuk menerimanya. Bagi yang menasehati saudaranya, hendaknya ia mengerjakan apa yang diucapkan, mengamalkan apa yang dinasehatkan, sebab nasehat yang tidak diamalkan dan tidak dijiwai tidak akan berbekas pada jiwa yang dinasehati. Dan sesungguhnya agama ini adalah nasehat sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Agama itu nasehat”, Kami bertanya kepada beliau, “Nasehat kepada siapa ?” Beliau menjawab : “Terhadap Allah, Quran, RasulNya, pemimpin-pemimpin dan seluruh kaum Muslimin””.

Mendoakannya ketika bersin
Mendoakan saudara yang bersin merupakan wujud perhatian dan kasih sayang terhadap saudaranya, sebab tatkala saudaranya itu bersin dan mengucapkan pujian kepada penciptanya : “Alhamdulillah”, serta merta ia yang mendengarkannya menanggapi dengan mengucapkan “Yarhamukallah” (Semoga Allah memberimu Rahmat), ia merupakan ucapan simpati dan doa atas kondisi saudaranya yang senantiasa memuji Allah dalam setiap keadaan khususnya saat ia bersin. Maka mendoakan dengan Rahmat layak diberikan pada saudaranya yang telah memuji Allah tersebut. Saat mendapatkan doa Rahmat, maka saudaranya itu hendaknya juga membalas doa bagi yang telah mendoakannya dengan mengucapkan, “Yahdini wayahdikumullah wa yuslih balakum” (Semoga Allah memberiku dan engkau petunjuk dan semoga Allah memperbaiki keadaanmu).

Doa tersebut cerminan telah terjalinnya ikatan hati antara sesama muslim yang senantiasa menghendaki kebaikan bagi saudaranya.

Menjenguknya ketika sakit
Merupakan kewajiban umat Islam untuk mengunjungi saudaranya yang sakit. Hal ini dapat meringankan beban derita sisakit yang merana sendirian dan merasa terasing. Kedatangannya hendaknya dapat meringankan beban sisakit dan dapat menghiburnya.

Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah berfirman pada hari kiamat : ‘Wahai bani Adam, Aku sakit dan kamu tidak menjengukKu.’ Ia berkata : ‘Wahai Rabbku, bagaimana bisa aku menjengukMu sedang Engkau adalah Tuhan sekalian Alam’, Allah menjawab ‘Tidakkah kamu mengetahui bahwa seorang hambaKu fulan sakit dan kamu tidak menjenguknya? Tidakkah kamu mengetahui bahwa andaikata kamu menjenguknya, kamu mendapatiKu di sisinya”  (HR.Muslim).

Rasulullah saw memberikan motivasi kepada umatnya agar menjenguk orang sakit dengan menempatkannya di antara buah-buahan surga, sabda Rasulullah saw:
“Sesungguhnya seorang muslim apabila menjenguk saudaranya sesama muslim, maka ia tetap berada di antara buah-buahan surga yang siap dipetik, sampai akhirnya ia kembali.” (HR.Muslim).

Sangat indah sekali ajaran Islam, setiap kebaikan yang dilakukan untuk orang lain tidak luput balasannya di sisi Allah SWT.

Mengiringi jenazahnya
Persaudaraan sejati tidak sebatas pada alam dunia saja, saat ajal menjemput, saudaranya ikut berta’ziyah dan mengiringi jenazahnya dan menyaksikan jasad saudaranya dimasukkan kedalam liang lahat, iringan terakhir di dunia dan kelak akan berjumpa di surganya Insya Allah.

Allah SWT bahkan akan memberikan pakaian kehormatan bagi mu’min yang berta’ziyah kepada saudaranya sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Majah dari Amr bin Haram : “Tiadalah di antara mu’min berta’ziyah kepada saudaranya yang mendapat musibah, kecuali Allah mengenakan pakaian kehormatan pada hari kiamat.”

Doa Iftitah Sholat Malam dan Penegakkan Hukum Allah

alam sebuah hadits shohih riwayat Imam Muslim terdapat sebuah tanya jawab antara seorang sahabat bernama Abu Salamah ibnu Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ’anhu dengan istri Nabi Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ’anha. Sahabat ini menanyakan soal bacaan doa yang biasa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ucapkan bila membuka sholat malam alias sholat tahajjud. Artinya beliau ingin tahu doa iftitah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ketika mengawali sholat malam. Maka Aisyah radhiyallahu ’anha menjelaskan dengan lengkap. Ternyata jika kita renungkan isinya maka tampak betapa banyak pelajaran dan mutiara hikmah yang bisa kita petik darinya. Adapun lengkap haditsnya adalah sebagai berikut.

iftitah_qiyamullail

Berkata Abu Salamah ibnu Abdurrahman bin Auf: “Aku bertanya kepada Ummul Mu’minin Aisyah: Dengan doa apakah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam membuka sholatnya bila ia bangun malam?” Aisyah menjawab: “Bila Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bangun malam beliau membuka sholatnya dengan: Allahumma Rabba Jibriila wa Mikaaiila wa Iraafiila Faathiros-samawaati wal ardhi ‘aalimal-ghaibi wasy-syahaadati anta tahkumu baina ‘ibaadika fiima kaanuu fiihi yakhtalifuuna ihdinii limakhtulifa fiihi minal-haqqi bi-idznika innaka tahdii man tasyaa-u ilaa shiraatim-mustaqiim (“Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Rabb yang mengetahui hal-hal yang ghaib dan nyata. Engkau yang menghukumi (memutuskan) di antara hamba-hambaMu dalam perkara yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku, dengan seizinMu, pada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Engkau menunjukkan jalan yang lurus bagi orang-orang yang Engkau kehendaki.”) (HR Muslim 1289)

Pertama, doa ini diawali dengan menyeru Allah dengan beberapa atribut muliaNya. Mula-mula si hamba menyebut Allah sebagai Rabb dari tiga malaikat mulia yang masing-masing mempunyai tugas-tugas tertentu yang luar biasa. Yaitu malaikat Jibril yang merupakan panglima alias pimpinan segenap malaikat lainnya. Di samping itu malaikat Jibril juga bertugas mengantarkan wahyu kepada para Rasul Allah. Subhaanallah…! Jadi, kita seolah diingatkan bahwa Allah yang kita seru di tengah malam itu ialah Rabb dari malaikat yang telah mengantarkan wahyu Kitabullah Zabur kepada Nabiyullah Daud ’alihis-salaam, Kitabullah Taurat kepada Nabiyullah Musa ’alihis-salaam, Kitabullah Injil kepada Nabiyullah Isa ’alihis-salaam serta Kitabullah Al-Quran Al-Karim kepada Nabi kita Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam.

اللَّهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ

“Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail dan Israfil…”

Kemudian kita menyeru Allah yang merupakan Rabb malaikat Mikail, yaitu malaikat yang bertugas mengantarkan rizki setiap makhluk ciptaan Allah. Setiap manusia memperoleh rizki, maka malaikat inilah yang bertugas mengantarkan dan memastikan ia sampai kepada manusia tersebut. Bahkan hingga rizki segenap hewan dan tumbuh-tumbuhan…. Semua memperoleh rizkinya berkat izin Allah semata via kurir istimewa malaikat Mikail ini. Subhaanallah…! Jadi, melalui potongan doa ini kita seolah diingatkan bahwa Allah yang kita jadikan tempat mengeluh di tengah malam itu ialah Rabb Pemberi Rizki yang Maha Murah dan bahwa Allah mempunyai malaikat yang bertugas sebagai aparat penyalur rizki yang tidak pernah sesaatpun lalai ataupun malas menjalankan tugasnya…!

Selanjutnya kita memanggil Allah yang merupakan Rabb dari malaikat Israfil, yaitu malaikat yang bertugas meniup sangkakala pada saatnya sebanyak dua kali. Tiupan pertama pertanda dimulainya peristiwa dahsyat hari Kiamat. Selanjutnya begitu Kiamat tegak maka tidak ada satupun makhluk yang akan dibiarkan Allah masih bernyawa selain malaikat Maut pancabut nyawa. Hingga Allah akan mencabut nyawa malaikat Maut itu dengan tanganNya sendiri. Wallahu’a’lam. Selanjutanya malaikat Israfil akan meniup sangkakala kedua kalinya sebagai pertanda dihidupkan dan dibangkitakannya kembali segenap makhluk dari kuburnya.

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ

إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

”Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS Az-Zumar ayat 68)

Jadi, melalui potongan doa ini kita diingatkan akan Allah sebagai Yang Maha Tahu dan Maha Kuasa menetapkan bila akan terjadinya peristiwa dahsyat hari Kiamat. Hari dimana manusia tidak akan sanggup membayangkannya. Hari dimana Allah akan hancurkan segenap alam semesta yang diciptakan dengan tanganNya sendiri atas Kehendaknya sendiri. Kemudian Allah izinkan malaikat Israfil untuk meniup sangkakala sebagai pertanda diawalinya peristiwa dahsyat tersebut. Untuk selanjutnya meniup sangkakala sekali lagi pertanda tegaknya hari berbangkit dimana setiap manusia akan berdiri satu per satu menunggu giliran dirinya diperiksa dan diadili oleh Allah Yang Maha Perkasa, Maha Adil lagi Maha Bijaksana.

Kedua, selanjutnya kita menyeru Allah dalam kaitan sebagai Pencipta langit dan bumi. Artinya, melalui potongan doa ini kita diingatkan betapa kecil dan tidak berdayanya diri ini di hadapan Allah Yang Maha Agung yang telah menciptakan segenap lapisan langit dan bumi beserta segenap isinya. Subhaanallah…! Hal ini diharapkan akan menumbuhkan rasa tunduk dan berserah diri dalam hati menghadapi Allah Dzat yang Maha Kuasa satu-satunya fihak tempat kita menghamba, mengabdi, bergantung dan memohon pertolongan.

فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

.” Wahai Pencipta langit dan bumi.”

Ketiga, kemudian kita menyeru Allah Yang Maha Tahu perkara ghaib maupun nyata dalam kehidupan ini. Artinya, potongan doa ini menumbuhkan dalam diri bahwa fihak yang kita seru di tengah malam adalah Rabb Yang tidak saja mengetahui segenap perkara yang tampak dan bisa diindera, melainkan juga mengetahui segenap perkara tidak tampak bahkan di luar jangkauan panca indera manusia. Allah ialah Dzat Yang Maha Tahu apa yang sudah, sedang dan akan terjadi dengan segenap rincian kejadiannya. Allah ialah Dzat Yang Maha Tahu segenap perkara baik dalam dimensi yang terjangkau oleh fikiran manusia maupun tidak. Allah ialah Dzat Yang Maha Tahu segenap peristiwa yang dialami makhluk kasar manusia maupun makhluk halus, baik jin maupun malaikat. MasyaAllah…!

عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

”Wahai Rabb yang mengetahui hal-hal yang ghaib dan nyata.”

Keempat, kemudian kita bersaksi bahwa Allah merupakan Hakim yang Maha Bijaksana, Maha Adil lagi Maha Baik. Allah memutuskan dengan keputusan terbaik dalam berbagai perkara yang diperselisihkan oleh hamba-hambaNya. Dan kita kaitkan dengan realitas dunia dimana kita saksikan dewasa ini begitu banyak perbedaan pendapat dan perselisihan antara manusia. Baik itu dalam urusan pribadi, perdagangan, politik, sosial, budaya, seni, pendidikan, hukum, militer, antar negara dan lain-lain. Melalui potongan doa ini, kita diingatkan bahwa sebaik-baiknya penyelesaian menghadapi segala perbedaan pendapat dan perselisihan antar sesama manusia ialah dengan mengembalikannya kepada Allah, Wahyu Allah, Kitabullah dan hukum Allah.

أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

”Engkau yang menghukumi (memutuskan) di antara hamba-hambaMu dalam perkara yang mereka perselisihkan.”

Pada hakikatnya kekacauan yang timbul dewasa ini merupakan konsekuensi logis dari kesombongan manusia yang menyangka bisa menghasilkan kebijakan yang adil bagi segenap manusia padahal mereka menyelesaikannya dengan fikiran dan hukum bikinan manusia. Mereka enggan untuk mengembalikan segenap urusan hidup dan perbedaan pendapat kepada Allah Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Sampai kapan manusia akan terus berlaku sombong dengan meninggalkan hukum berdasarkan petunjuk dan wahyu Allah Subhaanahu Wa Ta’aala? Sampai kapan manusia akhirnya akan menyadari bahwa segenap fikiran mereka disatupadukan tidak akan pernah bisa menghasilkan hukum yang adil-bijaksana bagi manusia lainnya? Hanya dengan mengakui bahwa Allah-lah satu-satunya fihak Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana ummat manusia akan menjalani kehidupan yang penuh keadilan hakiki di dunia yang fana ini. Wallahua’lam…!

Kelima, lalu barulah kita mengajukan permohonan dengan rendah diri dan rendah hati di hadapan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Suci. Kita nyatakan ketergantungan kita akan petunjukNya untuk memberikan keputusan yang benar di tengah perselisihan pendapat yang merebak di antara umat manusia. Dan kita tegaskan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya fihak yang menunjuki manusia ke jalan yang lurus. Tidak ada manuisa manapun, sebesar apapun kekuasaan dan pengaruhnya di muka bumi ini, yang dapat mengantarkan dan menunjuki manusia lain ke jalan yang lurus dan terjamin mengantarkan kita ke surga tempat kebahagiaan sejati dan abadi.

اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنْ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

”Tunjukkanlah aku, dengan seizinMu, pada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Engkau menunjukkan jalan yang lurus bagi orang-orang yang Engkau kehendaki.”

Lalu dengan tetap menyerahkan keputusan akhir kepada Allah, kita nyatakan dengan jujur bahwa pada akhirnya Allah saja yang berhak menentukan siapa di antara hamba-hambanya yang berhak mendapat petunjukNya. Namun tentunya kita berharap kepada Allah bahwa diri kita termasuk mereka yang dipilihNya untuk memperoleh petunjukNya di tengah kesemrawutan perselisihan di antara umat manusia.

Oleh karenanya, sebagai bukti bahwa doa yang kita baca bukan sekedar pemanis di bibir sekedar untuk ”menyenangkan” Allah belaka, maka dalam realitas selanjutnya kita berusaha sekuat tenaga merujuk kepada ketentuan-ketentuan Allah melalui kitabNya, Al-Qur’an dan tuntunan RasulNya, hadits-hadits shohih dari Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam dalam menyelesaikan berbagai urusan hidup di dunia. Sebab kita sangat khawatir bahwa jika segenap masalah –baik kecil apalagi besar- tidak kita selesaikan berdasarkan apa yang Allah telah wahyukan, maka ancaman Allah sangat kita takuti. Kita sangat khawatir bahwa sikap meninggalkan hukumNya adalah sikap dusta dalam mengakui Allah sebagai Hakim yang Maha Bijaksana, Maha Adil lagi Maha Baik.

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

”Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS Al-Maidah ayat 44)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS Al-Maidah ayat 45)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Maidah ayat 47)

Ketiga ayat di atas merupakan ancaman bagi setiap orang yang tidak menjalankan penyelesaian perkara dengan kembali kepada Hukum Allah. Bayangkan, ancamannya sampai tiga macam label yang mengerikan..! Manusia yang memutuskan perkara tidak menurut apa yang diturunkan Allah, berarti ia dipandang Allah sebagai kafir, zalim dan fasik…! Lalu dalam ayat lainnya bahkan dengan tegas Allah hanya menawarkan dua pilihan bagi suatu masyarakat dalam kaitan dengan urusan hukum. Atau masyarakat itu mengembalikannya kepada hukum Allah dan bila tidak mau, maka masyarakat itu dipandang Allah sebagai masyarakat yang memilih hukum Jahiliyah.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maidah ayat 50)

Ya Allah, tunjukkanlah pada kami bahwa yang benar itu memang benar adanya dan berilah kami kekuatan untuk mematuhinya. Dan tunjukkanlah kepada kami bahwa yang batil itu memang batil dan berilah kami kekuatan untuk meninggalkannya. Amin ya Rabb.

–Ihsan Tandjung–

Kenalilah Allah Maka Dia Akan Mengenalimu

“..Kenalilah Allah di kala engkau senang, maka Dia akan mengenalimu di kala engkau susah..” [HR Tirmidzi, Ahmad, Abu Ya`la, Hakim] Jalur Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Shahih Al-Jami`.

Jika seorang hamba bertaqwa kepada Allah dan senantiasa menjaga hak-hak-Nya di saat senang dan sehat, maka ketahuilah bahwa Allah akan senantiasa bersamanya dalam kesenangan dan kesusahan. Jika seorang mengenali Allah dengan cara melaksanakan keta`atan ketika dalam keadaan sehat dan lapang, maka Allah akan mengingatinya ketika ia susah dengan menyayanginya, menolongnya, dan menghilangkan kesusahannya.

Perkara ini bersifat khusus yang mencakupi pendekatan Allah dengan hamba-Nya dan kecintaan-Nya serta terkabulnya do`a hamba tersebut. Ini juga maksud hadits qudsi:

“..Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada dengan apa-apa yang telah Aku perintahkan kepadanya. Dan hamba-Ku masih terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal sunnah sampai Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, dan menjadi penglihatannya yang dipakai untuk melihat, dan menjadi tangannya yang digunakan untuk menyentuh, Jika dia memohon kepada-Ku niscaya Aku penuhi, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya aku beri perlindungan kepadanya.” [HR Bukhari]

Adapun orang yang tidak mengenali Allah ketika mereka berada dalam kesenangan, maka tidak akan ada yang mempedulikannya dalam kesusahan, di dunia maupun di akhirat.

Adab Bercanda dan Bergurau

Muqaddimah

Islam adalah agama yang peripurna. Segala hal dalam kehidupan ini, mendapat porsi dalam Islam. Islam adalah diin al-adab, atau agama yang mengajarkan norma-norma luhur dan suci bagi umat manusia. Salah satu hal terkait norma-norma yang diajarkan Islam adalah adab berbicara. Allah menciptakan umat manusia dengan dua telinga dan satu mulut agar mereka lebih banyak mendengar daripada berbicara. Berbicaralah sedikit saja tetapi mengena, berkualitas, dan bermakna, daripada berbicara panjang lebar tidak jelas manfaatnya. Allah berfirman,

Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang dalam shalatnya selalu khusyu`. Dan orang-orang yang dari hal yang tidak berguna mereka selalu bepaling. [QS Al-Mu`minun (23) : 1-3]

Mukmin yang seperti ini adalah mukmin yang memiliki sifat-sifat yang dekat kepada Rasulullah, di mana diamnya adalah fikir, ucapannya adalah dzikir, dan amalnya adalah keteladanan.
Continue reading “Adab Bercanda dan Bergurau”

Dengki dan Konsekuensinya

Hasad (dengki) adalah benci terhadap hal keni`matan yang Allah berikan kepada orang lain. Baik itu berkeinginan hilangnya ni`mat tersebut maupun tidak (hanya sebatas tidak suka). Definisi yang seperti ini juga dipaparkan oleh Ibnu Taimiyyah rahimahulloh.

Kadangkala, hasad ini sulit dihindari oleh manusia karena bisa saja muncul secara tiba-tiba. Jika hasad maka jangan diikuti terus perasaan itu. Apabila seorang merasakan dalam hati ada hasad kepada orang lain maka jangan sampai rasa itu mendorongnya untuk berbuat zhalim, baik dengan perkataan (ghibah, fitnah, dll.) maupun perbuatan.

Orang yang hasad sekaligus terjerumus pada beberapa kesalahan berikut:
Continue reading “Dengki dan Konsekuensinya”

Motivasi dan Prosedur Taubat

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.[QS. Al Baqarah: 222]

“Setiap anak adam sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang orang yang bertaubat.” [HR. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah dan ad Darimi]

Sebagai manusia, seringkali kita melakukan kesalahan baik sengaja maupun tidak. Tidak sedikit dari kesalahan-kesalahan itu yang kemudian menjadi dosa. Oleh karena itu sudah sepantasnya bagi kita untuk terus mengoreksi diri terhadap kesalahan dan dosa kemudian bertaubat memohon ampun kepada Allah. Continue reading “Motivasi dan Prosedur Taubat”

Setan Buka Kartu

Diriwayatkan bahwa Nabi Musa a.s. pernah dua kali berjumpa dengan iblis. Pada kedua kejadian itu terpetik pengakuan dari iblis tentang cara dia menyesatkan manusia.

Di pertemuan pertama iblis mengingatkan empat perkara:
1. Syetan akan menguasai kita di saat kita marah
2. Syetan akan melemahkan perjuangan kita dengan mengingatkan tentang istri dan anak
3. Syetan akan mempermainkan hati kita di saat kita terjebak dalam perdebatan sehingga logika kita tertutup
4. Syetan akan menemani jika kita berduaan dengan wanita yang bukan mahram Continue reading “Setan Buka Kartu”