Fatihah 10 Style Al-Afasy

upload:
fatihah 10 style al-afasy

link:
Save Link As

ket:
syaikh mishary rashid al-afasy.
10 kali membaca surat al-fatihah dengan nada yang berbeda-beda.
dari kesepuluh bacaan itu tercakup semua riwayat pada qiro’at `asyr (qiro’at sepuluh, yaitu qiro’at sab`ah dengan tambahan tiga qiro’at).

rincian tiap bacaan sesuai urutannya,
1. jama` (gabungan) riwayat warsy, riwayat qolun wajah sukun, dan qiro’at ibnu amir
2. jama` riwayat qolun wajah shilah, qiro’at abi ja`far, dan riwayat al-bazzi
3. riwayat qunbul
4. qiro’at abu `amr
5. jama` qiro’at ‘ashim dan qiro’at al-kisa’i
6. riwayat serta qiro’at kholaf
7. riwayat kholad
8. riwayat roways
9. riwayat ruh
10. sama dengan no 5, versi ibtida dari awal hingga akhir ayat Continue reading “Fatihah 10 Style Al-Afasy”

Nasehat untuk Anak (Pelajaran bagi Ayah)

Al-Qur’an yang demikian compact merupakan karunia Allah yang memudahkan kita untuk menghafalnya. Meski ringkas, namun ia mencakup seluruh permasalahan kehidupan sesuai fungsinya sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia. Imam Syafi’i membutuhkan 4 hingga 5 jilid buku (yaitu karya fenomenal beliau: Al-Umm) untuk membahas perkara fiqh secara komprehensif. Bayangkan, jika Al-Qur’an setebal itu tentu akan merepotkan. Hebatnya lagi, hanya dengan jumlah halaman yang relatif sedikit, isinya sudah meliputi pokok keimanan, ibadah, syariat, muamalah, berita masa datang, dan kisah masa lalu.

Diantara hal yang terkandung dalam Al-Qur’an adalah kisah kehidupan para nabi serta orang-orang shaleh dari umat terdahulu. Dari hanya sekitar 600 halaman redaksi Al-Qur’an, Allah ‘menyempatkan’ untuk membahas kisah. Itu berarti pada kisah tersebut terdapat pelajaran, keteladanan, dan manfaat yang dapat kita petik.

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. [QS Yusuf (12) : 111]

Satu cerita yang diabadikan Al-Qur’an adalah tentang Luqman. Kisah dimana Luqman memberikan nasehat kepada anaknya. Sangat wajar bagi seorang ayah untuk memberi nasehat. Dan ini adalah suatu hal yang tulus karena tiada lain tujuan seorang ayah melainkan agar anaknya mendapat kebaikan. Sebuah gambaran pendidikan anak yang diajarkan oleh Al-Qur’an. Continue reading “Nasehat untuk Anak (Pelajaran bagi Ayah)”

Telunjuk Yang Bersyahadat

Ulama, dai, serta para penyeru Islam yang mempersembahkan nyawanya di jalan Allah, atas dasar ikhlas kepada-Nya, senantiasa ditempatkan Allah sangat tinggi dan mulai di hati segenap manusia.

Di antara dari dan penyeru Islam itu adalah syuhada (insyaAllah) Sayyid Quthb. Bahkan peristiwa eksekusi matinya yang dilakukan dengan cara digantung, memberikan kesan mendalam dan menggetarkan bagi siapa saja yang mengenal beliau atau menyaksikan sikapnay yang teguh. Di antara mereka yang begitu tergetar dengan sosok mulia ini adlah dua orang polisi yang menyaksikan eksekusi matinya (di tahun 1966).

Salah seorang polisi itu mengetengahkan kisahnya kepada kita:

Ada banyak peristiwa yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, lalu peristiwa itu menghantam kami dan mengubah total kehidupan kami.

Di penjara militer pada saat itu, setiap malam kami menerima orang atau sekelompok orang, laki-laki atau perempuan, tua maupun muda. Setiap orang-orang itu tiba, atasan kami menyampaikan bahwa orang-orang itu adalah para pengkhianat negara yang telah bekerja sama dengan agen Zionis Yahudi. Karena itu, dengan cara apa pun kami harus bisa mengorek rahasia dari mereka. Kami harus dapat membuat mereka membuka mulut dengan cara apapun, meski itu harus dengan menimpakan siksaan keji pada mereka tanpa pandang bulu.

Jika tubuh mereka penuh dengan berbagai luka akibat pukulan dan cambukan, itu sesuatu pemandangan harian yang ibasa. Kami melaksanakan tugas itu dengan satu keyakinan kuat bahwa kami tengah melaksanakan tugas mulia: menyelamatkan negara dan melindungi masyarakat dari para “pengkhianat keji” yang telah bekerja sama dengan Yahudi hina.

Begitulah, hingga kami menyaksikan berbagai peristiwa yang tidak dapat kami mengerti. Kami menyaksikan para ‘pengkhianat’ ini senantiasa menjaga shalat mereka, bahkan senantiasa berusaha menjaga dengan teguh qiyamullail setiap malam, dalam keadaan apa pun. Ketika ayunan pukulan dan cabikan cambuk memcahkan daging mereka, mereka tidak berhenti untuk mengingat Allah. Lisan mereka sentiasa berzikir walau tengah menghadapi siksaan yang berat.

Beberapa di antara mereka berpulang menghadap Allah, sementara ayunan cambuk tengah mendera tubuh mereka, atau ketika kawanan anjing lapar merobek daging punggung mereka. Tetapi dalam kondisi mencekam itu, mereka menghadapi maut dengan senyum di bibir, dan lisan yang selalu basah mengingat nama Allah.

Perlahan, kami mulai ragu, apakah benar orang-orang ini adalah sekawanan ‘penjahat keji’ dan ‘pengkhianat’? Bagaimana mungkin orang-orang yang teguh dalam menjalankan perintah agama adalah orang yang berkolaborasi dengan musuh Allah?

Maka kami, aku dan temanku yang sama-sama bertugas di kepolisian ini, secara rahasia menyepakati, untuk sedapat mungkin berusaha tidak menyakiti orang-orang ini, serta memberikan mereka bantuan apa saja yang dapat kami lakukan. Dengan izin Allah, tugas saya di penjara militer tersebut tidak berlangsung lama. Penugasan kami yang terakhir di penjara itu adalah menjaga sebuah sel di mana di dalamnya dipenjara seseorang. Kami diberi tahu bahwa orang ini adalah yang paling berbahaya dari kumpulan ‘pengkhianat’ itu. Orang ini adalah pemimpin dan perencana seluruh makar jahat mereka. Namanya Sayyid Quthb.

Orang ini agaknya telah mengalami siksaan sangat berat hingga ia tidak mampu lagi untuk berdiri. Mereka harus menyeretnya ke Pengadilan Militer ketika ia akan disidangkan. Suatu malam, keputusan telah sampai untuknya, ia harus dieksekusi mati dengan cara digantung.

Malam itu seorang syeikh dibawa menemuinya, untuk mentalqin dan mengingatkannya kepada Allah, sebelum dieksekusi.

Syeikh itu berkata, “Wahai Sayyid, ucapkanlah la ilaha illallah…” sayyid Quthb hanya tersenyum lalu berkata, “Sampai juga engkau wahai Syeikh, menyempurnakan seluruh sandiwara ini? Ketahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat la ilaha illallah, sementara engkau mencari makan dengan la ilaha illallah.”

Dini hari esoknya, kami, aku dan temanku, menuntun tangannya dan membawanya ke sebuah mobil tertutup, di mana di dalamnya telah ada beberapa tahanan lainnnya yang juga akan dieksekusi. Beberapa saat kemudian, mobil penjara itu berangkat ke tempat eksekusi, dikawal oleh beberapa mobil militer yang membawa kawanan tentara bersenjata lengkap.

Begitu tiba di tempat eksekusi, tiap tentara menempati posisinya dengan senjata siap. Para perwira militer telah menyiapkan segala hal termasuk memasang instalasi tiang gantung untuk setiap tahanan. Seorang tentara eksekutor mengalungkan tali gantung ke leher beliau dan para tahanan lain. Setelah semua siap, seluruh petugas bersiap menunggu perintah eksekusi.

Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengangumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap teguh dan sabar, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para sahabat. Tausiyah ini kemuadian diakhiri dengan pekikan, “ALLLAHU AKBAR WA LILLAHILHAMD!” Aku tergetar mendengarnya.

Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.

Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Quthb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”.

Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…”

(Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Quthb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Quthb sembari membawa pesan dari rezim penguasa Mesir, meminta agar Sayyid Quthb sekadar mengajukan pemohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Nasser, maka ia akan diampuni. Sayyid Quthb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, ‘Telunjuk yang senantiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalat, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rezim thawaghit…’ –penerjemah).

Sayyid Quthb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu seny8um tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan akhirat yang abadi”.

Perwira itu berkata, dengan nanda suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…”

Ustadz Sayyid Quthb berkata tenang, “Selamat datang kematian di jalan Allah… sungguh Allah Mahabesar!”

Aku menyaksikan seluruh episode ini, dan tidak mampu berkata apa-apa. Kami menyaksikan gunung menjulang yang kokoh berdiri mempertahankan iman dan keyakinan. Dialog itu tidak dilanjutkan, dan sang perwira memberi tanda eksekusi untuk dilanjutkan.

Segera, para eksekutor akan menekan tuas, dan tubuh Sayyid Quthb beserta kawan-kawannya akan menggantung. Lisan semua mereka yang akan menjalani eksekusi itu mengucapkan sesuatu yang tidak akan pernah kami lupakan untuk selama-lamanya… Mereka mengucapkan, “La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah…

Sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk bertobat, takut kepada Allah, dan berusaha menjadi hamba-Nya yang saleh. Aku senantiasa berdoa kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosaku, serta menjaga diriku di dalam iman hingga akhir hayatku.

Diambil dari kumpulan kisah: “Mereka yang kembali kepada Allah” karya Muhammad Abdul Aziz Al Musnad. Penerjemah: Dr. Muhammad Amin Taufiq. Courtesy: Al Firdaws English Forum.

Menyikapi 3G (Ghibah Gunjingan dan Gosip)

setali tiga uang: ghibah, gunjingan, gosip, sama saja artinya. beragam definisi namun semuanya mengerucut kepada satu kesimpulan. ghibah adalah penyebutan suatu yang ada pada orang lain (dimana orang tersebut tidak hadir saat pengemukaan hal tersebut) yang sekiranya orang itu mendengar ia akan merasa kesal. jika perkara itu benar maka itulah ghibah, jika perkara itu tidak benar maka itu menjadi dusta (fitnah). lain halnya jika orang tersebut hadir, maka itu adalah ejekan. ghibah seringkali dikaitkan dengan perusakan kehormatan seseorang.

seorang kawan bercerita bahwa ia satu ketika pernah melihat temannya (ikhwan) duduk berdua berhadapan di meja kantin bersama akhwat dengan suasana yang amat sangat cair di antara keduanya. sang ikhwan ini adalah koleganya sesama aktivis masjid sedangkan sang akhwat tampak asing. namun, balutan jilbab yang sedemikian apik merepresentasikannya sebagai muslimah yang baik. dengan sekejap sapa, kawan mengisyarat salam kepada ikhwan tersebut kemudian lekas berlalu setelah mendapat respon. setelah itu mulailah berkecamuk di hati kawan prasangka-prasangka buruk terhadap temannya itu. tiba-tiba ikhwan tersebut menghampiri dan memperkenalkan akhwat semejanya bahwa mereka berdua adalah saudara kandung. akhirnya lunturlah semua prasangka serta urunglah niat ghibah yang barangkali muncul.
Continue reading “Menyikapi 3G (Ghibah Gunjingan dan Gosip)”

Untuk Ummi dan Ukhti

wanita adalah seorang anak putri, seorang saudara perempuan, seorang istri, dan juga seorang ibu. jika wanita baik maka baiklah masyarakat sedangkan jika ia rusak maka rusaklah masyarakat. status mulia seperti itulah yang membuat para wanita juga memiliki kewajiban berjihad. tentu jihadnya wanita adalah bentuk jihad yang berada pada ranahnya dan sesuai segmentasi serta domainnya.

jihad disini bukanlah dalam arti sempit peperangan fisik. secara bahasa jihad berarti ‘mengeluarkan kekuatan dan apapun yang mampu dilakukan’. ibnu qoyyim mengklasifikasikan jihad sebagai berikut:
1. jihad melawan hawa nafsu
2. jihad melawan syetan
3. jihad melawan orang kafir dan munafiq
4. jihad melawan kemungkaran dan kezhaliman Continue reading “Untuk Ummi dan Ukhti”

Quran Motivasi Menuntut Ilmu

Di satu sisi, dorongan untuk menuntut ilmu digambarkan Al-Qur’an pada wahyu paling pertama yang diturunkan. “Iqro’”, begitulah redaksi perintah tersebut. Kata “iqro’” tidak semata diartikan sebagai “bacalah”, tapi juga bisa diartikan sebagai “telitilah”, “dalamilah”, serta “ketahuilah”. Pada ayat tersebut, tidak disebutkan tentang apa yang harus “dibaca” tetapi memberikan koridor “dengan nama Rabb” yang menunjukkan bahwa aktivitas itu harus bernilai ibadah dan secara umum juga bernilai bagi kehidupan. Untuk itu, maka tinjaulah alam, tinjaulah sejarah, sampai tinjaulah diri sendiri. Alat peninjau itupun sudah dipaparkan secara eksplisit oleh Al-Qur’an. Potensi yang dimiliki manusia untuk memahami pengetahuan adalah pendengaran, penglihatan, akal, dan hati. Dorongan untuk menguasai teknologi menjadi semakin kuat dengan pernyataan dalam Al-Qur’an bahwa alam ditundukkan untuk dikuasai manusia. Continue reading “Quran Motivasi Menuntut Ilmu”

Syarat Kemenangan di dalam Islam

kemenangan dalam pandangan Islam bukan sebatas pada tercapainya suatu tujuan, tetapi juga pada
keberadaan ridha Allah dalam kemenangan tersebut.

setidaknya ada lima hal yang menjadi pertimbangan sehingga kita dapat meraih kemenangan dari Allah swt.

1. nilai

hal mendasar yang menjadi syarat sehingga Allah swt memberikan kemenangan, adalah terpenuhinya nilai-nilai yang
menjadikan kita layak mendapat kemenangan. nilai-nilai yang dimaksud terdapat dalam kitipan ayat Q.S. Al Hajj:40-41.
kutipan aya tersebut menyebutkan bahwa kemenangan akan diperoleh ketika 4 nilai telah terpenuhi,
yaitu solat, zakat, menegakkan kebenaran, dan mencegah kemunkaran.

2. konsep

setelah terpenuhinya nilai-nilai kemenangan, maka hal selanjutnya adalah konsep yang kita bawa selama mengusahakan kemenangan.
konsep seperti apa yang layak mendapatkan kemenangan dari Allah swt?
untuk itu, kita perlu merujuk pada Q.S. 12:108.
konsep yang layak mendapat kemenangan, adalah konsep yang tidak bertentangan dengan syariat Allah swt termasuk sunnah Rasul saw.

konsep syariat Islam yang telah dicontohkan suri tauladan kita semua Rasul saw. maka, dengan yakin kita katakan bahwa “..ini jalanku,
aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak engkau kepada Allah dengan yakin, maha suci Allah dan aku tidak termasuk orang yang musyrik”.

3. sistem

konsep yang baik tentu tidak akan memiliki daya guna tanpa adanya sebuah sistem yang menjalankan konsep tersebut. maka perlu ada sebuah
sistem yang dapat menjalankan konsep tersebut, sistem yang membuat kita layak mendapat kemenangan dari Allah swt.

sistem seperti apa yang dimaksud?
Allah swt mengajari kita lewat petikan ayat-Nya di dalam Q.S. Ali Imran. “Dan hendaklah ada di antara kamu sebagian golongan yang menyeru
kepada kebaikan, menyuruh berbuat yang baik, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

petikan ayat tersebut mengajarkan kita sebuah sistem yang di dalamnya terdapat orang-orang yang senantiasa menyeru di jalan Allah, sistem
yang senantiasa menjalankan proses pembinaan tiada henti, sistem yang tidak hanya menjadikan seseorang soleh tapi juga menjadikan seseorang
dapat mensolehkan orang lain.

sistem itulah yang kita kenal dengan tarbiyah.
sistem yang Rasul dan sahabat terapkan dan bahkan Allah swt terapkan ketika membina Rasul saw. sistem ini telah membuktikan kejayaan Islam
dapat diraih, maka dengan sistem ini pula kejayaan Islam akan kita raih, insya Allah.

4. jamaah
sistem hanyalah sebuah perangkat dalam menjalankan sebuha tujuan. sistem dengan segala kelibihannya tak akan berjalan tanpa ada sumber daya
di dalamnya, terutama sumber daya manusia, dan terutama lagi manusia-manusia terbaik. saya katakan “manusia-manusia terbaik” karena memang
sistem ini bukanlah untuk dijalankan oleh seorang manusia saja tetapi seperti kutipan ayat di Ali Imran tadi bahwa yang menjalankan ini
haruslah segolongan orang, komunitas, jamaah.

maka jamaah seperti apa yang layak mendapatkan kemenangan dari Allah swt?
ialah jamaah yang memiliki kekuatan individu. individu yang memiliki kekuatan akidah dan menerapkan nilai-nilai seperti pada poin pertama.
lalu jamaah yang memiliki ukhuwah yang solid, saling percaya dan menghargai saudaranya.
jamaah yang memiliki kekuatan amal, yaitu jamaah yang senantiasa berbuat kebaikan.

5. tujuan
poin terakhir yang menjadikan kita layak mendapat kemenangan adalah adanya tujuan. tujuan seperti apa?
rodho Allah swt. itulah sebaik-baik tujuan. maka, pada setiap langkah kita bergerak tak ada tujuan paling tinggi yang hendak dicapai
selain harapan yang besar kepada Allah swt.
sebagai penutup, cukuplah perintah Allah, “dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap”. Q.S. Al Insyirah : 8.

inspired by ust. Suherman

Keluasan Ampunan Allah

Pernahkah antum berbuat dosa? Sebuah pertanyaan retoris karena semua pasti akan menjawab “ya”. Lantas seberapa banyak-kah dosa yang telah antum perbuat? Berikut ini ada beberapa dalil (Hadits dan AlQur’an) yang menarik untuk kita simak.

Dari Anas RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT berfirman: “Wahai anak Adam, sepanjang engkau berdoa dan mengharap kepada-Ku maka Aku akan mengampuni dosamu dan aku tidak perduli. Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu setinggi awan di langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku maka Aku pasti akan mengampunimu. Wahai anak Adam seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan-kesalahan sebesar bumi kemudian engkau bertemu denganku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatupun maka Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sebesar itu pula.” (Hadits Arbain no 42, hadits hasan shahih diriwayatkan oleh At Tirmidzi)

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’: 110)

Dari dua dalil diatas ,dan masih banyak lagi dalil yang senada dalam Al Quran ataupun hadits, dapat kita tarik kesimpulan bahwa tidak boleh sekalipun kita berputus asa terhadap ampunan dari Allah SWT. Sekalipun dosa kita sebanyak buih di lautan ataupun sebesar gunung, jika Allah berkehendak untuk mengampuninya maka hilanglah dosa tersebut. Yang perlu diperhatikan disini adalah khusus untuk dosa syirik, memang tidak semudah itu diampuni.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa saj ayang Ia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah (syirik), maka sungguh ia telah melakukan dosa yang sangat besar.” (QS 4. An-Nisaa: 48)

Ayat diatas bukan berarti ditafsirkan bahwa dosa syirik itu tidak dapat diampuni. Ayat tersebut hanya menjelaskan betapa besarnya dosa syirik dibanding dosa-dosa yang lain.
Ayat ini haruslah dipahami –wallaahu A’lam– begini: Allah tidak akan mengampuni dosa syirik yang tidak ditobati (dimintakan ampun) sampai yang bersangkutan mati dan Dia bisa saja mengampuni dosa-dosa selain syirik itu dengan tanpa ditobati bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Jadi, syirik pun bisa diampuni Allah asalkan orang yang berdosa syirik itu benar-benar menyesali dosanya itu dan mohon ampunan kepada Allah disertai dengan taubatan nashuuha.
Beberapa hal yang harus dilakukan agar dosa kita diampuni oleh Allah :

  • Istighfar

Istighfar disini berarti meminta ampunan kepada Allah atas dosa-dosa yang telah kita perbuat. Bisa juga berarti meminta ampun terhadap kelakuannya yang belum banyak bersyukur seperti istighfarnya para orang-orang shalih. Atau bisa berarti permohonon ampun sebagai ungkapan rasa syukur sebagaimana istighfar yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan juga para Nabi.

  • Taubat dengan sebenar-benarnya

Meminta ampun (istighfar) wajib diikuti dengan taubat sebagaimana firman Allah:
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya” (QS Hud: 3)

  • Memperbanyak melakukan amal kebaikan

Salah satu hal yang bisa membantu menghapuskan keburukan adalah dengan perbuatan baik.

Rasulullah SAW bersabda: “Bertaqwalah kepada Allah di mana pun kamu berada dan ikutilah perbuatan buruk yang telah kau perbuat dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik tersebut akan menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR Tirmidzi)

Dan bukan hanya menghapuskan keburukan saja. Secara dhahir jelas bahwasanya kebaikan itu selalu bertolak belakang dengan keburukan. Insya Allah jika kita selalu berusaha memperbanyak amalan terpuji, maka dengan sendirinya kita akan terhindar dari melakukan perbuatan dosa.

Khusus untuk dosa yang berkaitan dengan hamba Allah seperti perkelahian, marah,  ghibah, dll semuanya itu tidak akan terhapus kecuali setelah meminta keridhaan dari hamba yang didzalimi dan juga harus menjelaskan kepada yang bersangkutan tentang semua perbuatan dzalim tersebut.

Apalagi yang kita tunggu? Bersegeralah berlomba menuju ampunan ,Al Ghaffar, Allah SWT.

Wallahu ‘alam bisshowab

Beramal itu Mudah

dari sebuah survey kecil dengan tajuk “menurutmu, pahala apa yang paling mudah?” diperoleh mayoritas (delapan terbanyak) jawaban dengan urutan sebagai berikut:
1. senyum
2. dzikir
3. mendoakan orang
4. tidur
5. berniat baik
6. salam
7. mencintai orang karena Allah
8. sholat

ada sebuah jawaban yang cukup menarik untuk dibahas lebih dalam disini: membaca qur’an. argumen ini berangkat dari nilai pahala membaca qur’an, yaitu satu pahala untuk satu huruf. tidak sampai di situ saja, tiap pahala akan dibalas dengan sepuluh kebaikan.

mari berhitung kasar. dalam satu baris mushhaf pojok (jenis mushhaf yang pojok kanan atas adalah selalu awal ayat sedangkan pojok kiri bawah adalah selalu akhir ayat) terdapat sekitar 40 huruf (diambil sebuah sampel, yaitu baris pertama halaman kedua surat al-baqoroh). dalam satu halaman mushhaf terdapat 15 baris. artinya satu halaman terdiri dari 600 huruf. berarti dalam satu juz (20 halaman) terdapat total 12.000 huruf.

seorang dapat tilawah satu juz (secara tartil) dalam waktu sekitar 35 menit. dengan kata lain, dengan membaca qur’an kita akan memperoleh 12.000 pahala = 120.000 kebaikan dalam 35 menit saja! dan konsekuensi sebuah pahala/kebaikan itu bervariasi, dari mulai penghapus dosa, pemberi keberkahan, pengangkat musibah, sampai pemberat timbangan akhirat.

nah, dengan melihat hal tersebut maka alangkah ‘tidak waras’ jika kita masih malas membaca qur’an. betapa entengnya kita membuang 35 menit hanya untuk facebook, mendengarkan mp3, menonton film, nge-blog (ups..), chatting, melamun, dan sebagainya. padahal hari itu belum tilawah sama sekali.

kembali ke inti persoalan. bahwa ternyata beramal itu mudah. hal-hal sederhana semacam senyum dan tidur pun bisa bernilai amal yang berpahala. namun ada kuncinya: niat dan rutin.

beda nilainya antara tidur yang diniatkan agar bisa bangun untuk menonton bola (saja); dengan tidur (yang diawali do’a) yang diniatkan sebagai istirahat sehingga bisa bangun tahajjud serta memperoleh energi untuk aktivitas dan ibadah pada esoknya.

juga beda nilainya antara ikhwan yang tilawah memang benar-benar untuk tujuan tilawah (yakni: ilmu, amal, pahala, munajat, dan obat -insyAllah akan dibahas pada tulisan yang lain) dibanding ikhwan yang tilawah karena di tempat itu ada akhwat ‘incarannya’ sehingga dia diperhatikan.

niat (ikhlash dan ibadah) membuat amal-amal kecil menjadi besar nilainya; sebaliknya niat (riya, ujub, dll.) juga membuat amal-amal besar menjadi kecil nilainya.

kunci selanjutnya: rutin. tilik bagaimana bilal dijamin masuk surga karena wudhu (dan sholat syukur wudhu) yang rutin dilakukannya. sesungguhnya amalan yang kecil tapi rutin itu lebih dicintai Allah. masing-masing dari kita tentu lebih tahu, amal ‘kecil’ apa yang bisa rutin kita lakukan.

sebagai penutup, sangat indah kata-kata yang dipopulerkan aa gym, “mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai sekarang juga”. dan jangan lupa, semua kemudahan itu juga adalah bentuk nikmat dari Allah yang harus disyukuri.

wAllahu muwafiq.

Doa Rabithah on Nasheed

Nasyid ini mungkin tidaklah spesial amat. Tapi dampaknya yang saya rasa spesial, sangat spesial. Mau tau rasanya? Coba denger sendiri ya…

Download di sini (klik kanan, “save as” atau “save link as”)

Semoga bermanfaat.