BRAIN GAIN, BRAIN DRAIN, DAN BRAIN CIRCULATION

India, pakistan, cina, mengajarkan pada kita tentang kepercayaan diri selaku bangsa dan negara dunia ketiga. India dan Cina berhasil mengubah kondisi brain drain menjadi brain gain di tengah kondisi brain circulation.

Brain drain, bermakna ilmuan-ilmuan terkemuka (outstanding) negeri sendiri dalam kondisi tersebar di seluruh penjuru bumi ini, terutama tersebar di negara-negara maju, seperti Amerika dan Eropa. Kondisi ini tentu saja sangat tidak diinginkan oleh negara yang bersangkutan karena SDM penting yang ia miliki justru memajukan negara lain, bukan negara asalnya.

Brain gain, bermakna meraih kekuatan ilmuan-ilmuan negeri sendiri yang tersebar di seluruh pelosok bumi dengan cara membangun jaringan yang menghubungkan mereka dan menyatukan pemahaman untuk membangun negeri sendiri. Brain gain policy diterapkan pemerintahan di India dan Cina sehingga efeknya bisa kita saksikan saat ini.

Selain atas dasar kesamaan asal negara, brain gain policy muncul atas dasar pertimbangan fenomena brain circulation yang terjadi di dunia saat ini. Brain circulation berarti sebuah kondisi yang menggambarkan ilmuan dari negara manapun, ras manapun akan mencari tempat di mana ia dapat melakukan penelitian dengan sangat baik. Menyadari hal tersebut, tentu saja dengan kebijakan brain gain, kedua negara di atas bukan hanya meminta orang-orang cerdas di negaranya untuk bersama membangun bangsanya tetapi juga mempersiapkan infrastruktur dan sokongan dana yang cukup untuk menunjang riset mereka.

Kebijakan seperti ini pun diikuti negara-negara lainnya, seperti Iran, Pakistan, Malaysia, dan Brazil.

Contoh kasus yang cukup populer tentang upaya peningkatan kemampuan ilmu dan teknologi suatu bangsa, adalah percakapan antara Presiden Pakistan, Pervez Musharaf dengan Prof. Dr. Atthaur Rahman (ilmuan Kimia terkemuka Pakistan) ketika diminta untuk menjadi menteri pendidikan dalam kabinetnya. Lantas Prof. Atthaur menjawab: “Are you serious on science, Mr. President?”. Musharaf, menjawab: “of course I’m serious!”. Prof. Atthaur kemudian melanjutkan: “if you are serious in science, then follow my policy!”. Presiden kaget mendengar hal tersebut, lantas meminta penjelasa kepada Prof. Atthaur. Ia menjelaskan: “first, government must increase higher education budget this year by 100%, then followed by 50 % every year to come until 5 years. Secondly, government must increase research expenditure by 6000%, and lastly government must pay Pakistani outstanding scientist fiur time higher than cabinet minister!. If you agree with my policy, I’m ready to be a minister!”. Presiden setuju dengan kebijakan ini. Sehingga setelah 5 tahun, kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan industri Pakistan sudah mendekati India.
Kisah ini memberi pelajaran pada kita sebagai berikut:
1. Seorang ilmuan semestinya tak hanya paham akan ilmu yang ia tekuni tetapi juga harus menyadari mengenai kondisi bangsanya sekalipun itu menyentuh dunia ekonomi dan politik karena ilmu yang dimilikinya sudah semestinya ia baktikan untuk bangsa dan negaranya.
2. Ketajaman visi, keluasan pengetahuan, dan kepercayaan diri menjadi modal penting untuk mewujudkan negara yang berdaulat seutuhnya, maju di segala bidang, khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Right man on the right place menjadi kunci penting dalam positioning SDM untuk memajukan bangsa dan negara.

Oleh karena itu, rasanya tak salah seandainya kita, Indonesia melakukan hal yang serupa seperti yang dilakukan negara-negara tersebut. Sehingga kita bisa menjadi negara yang benar-benar berdaulat dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi karya putera puteri negeri sendiri. Kita pun kelah akan bangga dengan bangsa kita sendiri dan dapat terlepas dari berpangku tangan ke negara-negara lain. Semoga kita bisa belajar lebih baik, untuk Indonesia yang lebih baik.
[rahadian]
Inspired by: M. Amien Rais. Agenda Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *